Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Kamis, 07 Maret 2013

PIDATO BAHASA INDONESIA
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Yang terhormat kepada bapak dan ibu penguji...serta teman – temanku yang saya banggakan,...
Marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nyalah  kita dapat berkumpul dalam acara “Globalisasi pada Remaja”ini dalam keadaan sehat wal’afiat.
Teman - teman yang berbahagia,
Di dunia yang sangat modern saat ini, kita tak akan pernah terlepas dari namanya“ Globalisasi”, tidak terkecuali pula dengan remaja di negara kita. Hampir 90% dari mereka sudah akrab bahkan menjadikan globalisasi tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka. Adapun sisanya yang tidak mengenal dan tidak memahami kata globalisasi, adalah remaja yang masih jauh  tinggal di dalam suku pedalaman yang masih memegang teguh adat istiadat dan sebagian besar dari mereka tidak menempuh jenjang pendidikan karena lebih memilih tinggal di rumah untuk membantu orang tua.
Arus globalisasi memang diiringi oleh kemajuan dan kecanggihan peralatan teknologi di sekitar kita. Contohnya, dari komputer yang sederhana beralih ke laptop yang portable lalu sekarang siapa yang tidak mengenal I-Pad, laptop versi touch-screen yang sangat digemari saat ini. Sesungguhnya pengaruh kecanggihan teknologi tak berpandang jauh dari remaja. Sebagaimana kita tahu semakin canggih teknologi yang kita gunakan maka semakin mudah pula kehidupan kita dalam bersosialisasi maupun memenuhi kebutuhan hidup. Dan terelakkan lagi dampak dari teknologi tersebut pasti akan dialami pula oleh kalangan remaja.
Sesungguhnnya semua sikap, perilaku dan tindakan manusia pastilah memiliki dampak tersendiri baik bagi dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya, sama halnya dengan teknologi yang diciptakan oleh manusia. Walaupun teknologi tersebut sangat akrab di pangkuan kita, kita tak boleh mengabaikan akan dampaknya yang terkadang keruh jelasnya tak dapat ditangkap oleh panca indera kita. Teknologi yang canggih dapat dijadikan teman, ataupun dapat dijadikan sebagai lawan. Tentunya teman yang baik pastilah membawa suatu dampak yang baik. Begitu pula dengan lawan, lawan yang kejam juga dapat berdampak kejam pula pada diri kita. Hal ini dapat dianalogikan dengan dampak teknologi yang dapat terjadi pada kalangan  remaja.
Bila ditanya tentang dampak positif dan negatif kecanggihan teknologi terhadap psikologi remaja, sekarang mudah kita temukan pada teman-teman di sekitar kita, maupun pada acara berita di televisi. Sebagai contoh, teman-teman kita yang ketagihan dengan jejaring sosial seperti facebook dan twitter, maraknya pornografi dan pornoaksi yang mengerubungi kalangan remaja, free-sex dan narkoba. Hal ini tidak akan menutup kemungkinan bila semua  itu akan berujung pada kenakalan remaja.
Dari kondisi psikologi saja, para remaja yang rentan akan semakin mengutamakan gengsi, trend dan mode yang berlaku saat ini. Kebutuhan akan hausnya pendidikan mereka kesampingkan karena mereka telah terlena dengan kemudahan hidup yang mereka alami dalam bergaul. Biasanya hal ini dikarenakan mereka malu apabila diejek tidak gaul ataupun tidak modern oleh teman sepergaulannya. Kondisi psikologi yang terbentuk inilah yang lama kelamaan semakin merusak citra remaja dalam dunia pendidikan.
Walaupun tetap segi positif pada teknologi saat ini masih ada, namun banyaknya para remaja yang semakin tidak selektif dalam mempergunakan teknologi, semakin memperburuk kondisi psikologi mereka. Bila ketidakselektifan ini dibiarkan, maka tindakan kriminal ataupun yang tindakan yang melanggar Undang-Undang akan mudah dilakukan oleh para remaja.
Oleh karenanya, sebagai warga yang peduli akan nasib generasi penerus bangsa kita harus bahu-membahu dalam membimbing, mengajarkan dan memperingatkan para remaja agar selalu selektif dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi yang semakin canggih. Hal ini demi menghindari dampak-dampak negatif yang dapat mempengaruhi psikologi remaja.
Saya rasa cukup, sekian dari pidato saya apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf.
Wabillahi taufik wal hidayah wass. wr. wb

Minggu, 04 Maret 2012
Sebuah paragraf yang baik adalah paragraf yang memiliki susunan kalimat yang padu baik bentuk maupun makna kalimat tersebut dan umumnya hanya terdiri atas sebuah ide pokok / gagasan utama diuraikan dalam beberapa kalimat penjelas.
Gagasan utama merupakan pokok / inti utama dari penjelasan isi paragraf. Gagasan utama dapat dikatakan sebagai sebagian kecil dari kalimat utama karena gagasan utama umumnya ditemukan pada kalimat utama.  Sedangkan kalimat penjelas merupakan kalimat penjabaran dari makna apa yang ingin disampaikan oleh gagasan utama.
Berdasarkan letak gagasan utamnya, paragraf dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :
a.     Paragraf Deduktif
b.     Paragraf Induktif
c.      Paragraf Deduktif – induktif

1.           Paragraf Deduktif
Paragraf ini menggunakan pola pengembangan paragraf dari umum-khusus yakni mengungkapkan sesuatu hal yang bersifat umum lalu dikuti dengan penjelasan yang bersifat khusus dari pernyataan umum tersebut.
2.          Paragraf Induktif
Paragraf ini menggunakan pola pengembangan patagraf dari khusus-umum yakni mengungkapkan sesuatu hal yang bersifat khusus terlebih dahulu lalu diikuti oleh sebuah kalimat yang bersifat umum atau penegas yang biasa disebut dengan sebuah kalimat kesimpulan.
3.           Paragraf Deduktif – induktif
Paragraf ini menggunakan pola campuran, yakni merupakan paragraf yang dimulai dengan sebuah kalimat utama, diikuti oleh beberapa kalimat kalimat penjelas, dan diakhiri oleh sebuah kalimat utama yang  mempunyai ide pokok sama dengan kalimat yang pertama. Intinya pada paragraf ini terdapat dua kalimat utama yakni pada awal kalimat dan di akhir kalimat.
Contoh dan ciri – ciri masing – masing paragraf :

Paragraf Deduktif

Keberhasilan dunia pertanian membawa dampak pada peningkatan kesejahteraan. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan pemuliaan tanaman. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kuanti­tas dan kualitas produksi tanaman pangan. Usaha tersebut diterapkan pada hampir semua jenis tanaman, misalnya: padi, palawija, buah, sayur, dan tanaman hias. Padi yang ditemukan sekarang mempunyai umur singkat, batang pendek, dan butir gabah banyak. Buah-buahan yang dijual di pasar selalu berkualitas tinggi. Begitu juga dengan sayur dan tanaman hias, semuanya menunjukkan kon­disi baik.

Analisis :
-         Kalimat utama berada di awal paragraf (kalimat berwarna merah)
-         Kalimat – kalimat penjelas berada tepat setelah kalimat utama (kalimat berwarna hitam)

Ciri – ciri :
-         Letak kalimat utama berada di awal paragraf tersebut
-         Biasanya kalimat tersebut mencakup / memayungi makna dari kalimat – kalimat penjelas berikutnya
-        Berpola umum – khusus



Paragraf Induktif

Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku. Itulah beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional

Analisis :
-          Kalimat utama berada di akhir paragraf ( kalimat berwarna merah )
-          Didahului dengan kalimat – kalimat penjelas lalu diakhiri kalimat utama tersebut

Ciri – ciri :
-         Kalimat utama berada di akhir kalimat
-         Umumnya kalimat utama disebut juga sebagai kalimat kesimpulan karena menggunakan kata – kata konjungsi sebagai penyimpul antarkalimat
-     :     Berpola khusus – umum

Paragraf Deduktif – Induktif

Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN). Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku. Oleh karena itu, maka sebaiknya para guru memberitahukan tips belajar menjelang UAN.

Analisis :
-         Kalimat utamanya tidak hanya berada pada awal paragraf namun di akhir kalimat pun juga terdapat kalimat utama sebagai penegas kembali kalimat utama sebelumnya

Ciri – ciri :
-         Kalimat utamanya berada di depan dan diakhir kalimat
-         Berpola campuran
Senin, 13 Februari 2012

DI ANTARA PILIHAN DAN KEWAJIBAN

Hawa dingin masuk ke dalam selimut, membuatku terbangun dari tidur. Sungguh menyebalkan harus terbangun di tengah mimpi indahku. Beranjak ku tinggalkan tempat tidur dan menuju dapur karena ku harus bersiap – siap berangkat ke sekolah.

“Baru bangun toh cah ayu. Jam berapa ini ? Nggak terlambat ke sekolah tah.” kata kakakku, Angga.
Sungguh menyebalkan, kakakku satu – satunya ini suka sekali menggodaku, padahal dia sendiri telah bekerja di sebuah perusahaan produk makanan ternama di Tulung Agung, dan itu pertanda bahwa ia sudah dewasa tapi mengapa sifat kekanak – kanakannya tak kunjung hilang. Kebetulan bulan ini dia diizinkan pulang oleh bosnya karena kecekatannya dalam bekerja, kalau kakakku pulang itu pertanda bahwa sebuah bencana besar akan menyerangku dan Hanis, adik laki – lakiku.

“ Apa’an sih mas? Minggir aku mau mandi.” jawabku.
“ Ya,,,ya,,,silakan lewat tuan putri.” jawabnya.
“ Pagi – pagi sudah diganggu.” gerutuku.
******
 Namaku Tita, aku adalah seorang gadis remaja yang hidup sederhana bersama kedua orang tuaku dan 2 orang saudara laki - laki. Ayahku adalah seorang buruh pabrik di kota Gresik, i` selalu pulang seminggu sekali, sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah  tangga tapi ia biasanya melakukan kerja sambilan sebagai pembuat kue. Aku sekarang duduk di kelas IX G di SMP Negeri 1 Turen, salah satu SMP yang terkenal di Kabupaten Malang, beberapa hari lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional. Tapi ada sesuatu hal yang tak disangka terjadi dalam hidupku.
******

Bel sekolah telah berbunyi, aku memasuki kelas dengan tenang. Kelasku berada di sebelah perpustakaan, walaupun tidak terlalu besar, kelasku masih memberi kesan yang nyaman bagi siapapun yang memasukinya walaupun untuk menerapkan tugas piket di kelasku sangatlah sulit, berapapun denda yang ditentukan tidak berpengaruh. Mungkin karena kelasku dari tahun pertama sampai tahun ketiga ini memang pantas untuk  diberi nama kelas yang tidak kompak oleh para guru yang mengajar karena kesombongan anak – anak di kelasku.
 Menurutku omongan para guru mengenai kelasku memang benar. Menurutku, kelas IX G itu dari tahun pertama telah terbagi secara tidak langsung menjadi 3 golongan, yaitu : golongan anak orang kaya, golongan anak biasa dan golongan yang netral. Mereka mengelompokkan diri dalam segala hal, misal tugas kelompok maka akan membentuk kelompok yang sama setiap anggotanya yang seakan – akan permanen tidak ada penggantinya. Sampai – sampai para guru heran mengapa setiap tugas kelompok selalu anggotanya sama. Tapi aku tak peduli dengan teman – temanku karena bagiku mereka adalah aktris yang paling terbaik di antara aktris yang ada. Mengapa?
Kalian takkan menyangkanya. Jika aku menceritakannya.
**********

Pelajaran pertama hari ini adalah fisika, pelajaran yang paling aku sukai. Sejak Bu Lilik memperkenalkanku dengan sangat dekat pad` fisika, membuatku jatuh hati pada pelajaran yang satu ini. Aku selalu mendapat nilai yang terbaik pada pelajaran ini, dan ku harap dapat melakukan segalanya dengan baik layaknya mengerjakan soal – soal fisika.

“ Tanty, tanty,,aku tidak mengerti cara yang ini, tolong ajarin aku?” tanya April.
Dasar muka dua, batinku. Sambil menghela nafas aku menjawabnya,
“ Oh ini, ya tinggal memasukkan angka – angka yang tertera dengan mencocokkannya pada simbol yang ada, “m” untuk massa, “c” untuk kalor jenis dan “t” untuk perbedaan suhu. Gampang lo, may.”
“Aku masih gak ngerti tan, yo wis aku tak takon Hanum ae.” jawab April.

Dengan hentakan pelan April marah padaku, dia pergi meninggalkanku.

Seandainya Mila tak bilang padaku bahwa sebegitu bencinya kamu ke aku gara – gara kelakuan yang sampai saat ini tidak ku mengerti, mungkin aku akan dapat bersikap seperti biasa padamu. Tapi aku terlanjur tahu April bahwa kamu tak suka dengan aku dan kamu seakan berpura –pura tak terjadi apa – apa di depanku, hanya untuk bertanya pelajaran yang sulit saja, Ma’afkan aku, April. batinku.
Aku memang sangat bersyukur pada Allah SWT karena telah diberikan otak yang sangat jernih untuk memikir dan tidak sepatutnya ku berbuat seperti itu pada April. Tapi apa yang terjadi pada April terjadi pada anak – anak yang tergolong kaya di kelasku, mereka hanya baik di depanku tapi tidak di belakangku. Dan kasihannya aku ketika harus menyaksikan acting mereka selama 3 tahun dengan memendam hati yang telah berurat. Sungguh terkadang ku marah pada Allah SWT mengapa ku termasuk ke dalam kelas G selama 3 tahun berturut – turut. Tapi sama saja, ku hanya dapat bersabar untuk saat ini karena hanya tinggal menghitung hari Ujian Nasional akan dimulai. Dan aku tak boleh memikirkan hal lain selain itu.
Bel istirahat berbunyi, semua anak keluar kelas dan langsung pergi menuju kantin, tapi yang ku lakukan adalah tak ada. Memang selama kelas IX ini, ku sudah jarang pergi ke kantin. Aku bukan memanfaatkan waktu untuk belajar tapi merasa ku sudah tak ada teman lagi yang menemaniku ke kantin atau yang lain jadi lebih baik aku di kelas saja walau tidak melakukan apa – apa.
Tapi terkadang sahabatku yang datang ke kelas untuk mengajakku keluar. Menurutku hanya dia yang akan berkesan baik di hatiku. Nama dia, Yasmin. Dia duduk di kelas IX C memang kelas kami agak berjauhan tapi dia rela datang ke kelasku agar aku tak merenungi sikap teman – temanku di kelas. Dia tahu segala problemaku.
Dan hari ini dia datang,

“Tita, ayo keluar yuk!” ajaknya.
“Kita mau ke mana?” tanyaku.
“Ke tempat suram.” Jawabnya.

Dia mengajakku ke perpustakaan sekolah, katanya dia ingin menceritakan sesuatu padaku,
“Apa yang mau kamu ceritakan padaku?”
“Aku akan meneruskan sekolah  ke  Sidoarjo, Tita. Ku ingin bersekolah di sana dan selama di Sidoarjo, ku akan tinggal bersama budeku.” Jawabnya.
“Apa? Itu tidak bisa. Kamu bilang kamu akan meneruskan sekolah di sini, di Malang. Bagaimana kamu bisa berbuat begini padaku? Aku akan sendirian.”
“Aku akan senang bila kamu terus menghubungiku, walaupun aku jauh darimu. Kamu kan sahabatku pasti mengerti.”  Pintanya.
“ Aku mengerti. Mungkin ada alasan mengapa kamu memilih jalan itu.”
Kring…kring…kring…bel masuk pun berbunyi dengan berat hati aku berjalan menuju kelas.
Yasmin telah menentukan jalannya untuk meneruskan sekolah ke Sidoarjo, bagaimana dengan aku. Batinku.
 Pelajaran berlangsung sebagaimana mestinya, hingga bel pulang berbunyi. Aku langsung mencari angkutan umum untuk segera pulang.

“ Sial, aku kan les Bahasa Inggris, sayang sekali tak bisa langsung pulang.” Gerutuku.

Aku pun mengubah arah jalanku menuju tempat kursusku. Aku mengambil kursus di rumah Bu Ike. Bu Ike adalah guru kursus sekaligus guru di kelasku. Sudah 2 tahun aku di sana dan sekarang hari terakhir les di Bu Ike. Tempat kursusku tidak terlau besar tapi nyaman untuk dijadikan tempat belajar. Aku paling senang dengan kebun di belakang rumah Bu Ike, penuh dengan buah – buahan dan tak jarang kami diizinkan untuk mengambil beberapa buah untuk dimakan. Aku sering mengambil buahnya untuk dibawa pulang.
Kursus pun dimulai sekitar pukul 13.30, dan berakhir pukul 14.45.
Tapi kali ini berbeda, aku tidak diperbolehkan pulang oleh Bu Ike.

“Tanty, sebentar ibu mau tanya?”
“Ada apa, bu?” tanyaku.
“Apa kamu benar akan melanjutkan sekolah di SMAN 1 Gondanglegi, mengapa kamu tidak melanjutkan di Malang, kamu pantas melanjutkan di Malang dengan kemampuanmu yang bagus?”
“Mmmm…ya bu saya juga mengerti. Saya juga ingin seperti itu tapi saya memilih sekolah itu karena ayah saya,bu. Beliau berpikir bila saya mengambil sekolah SMA yang murah, akan memungkinkan bagi saya melanjutkan lagi ke jenjang perguruan tinggi, karena ayah mempunyai waktu untuk menabung, membuat cadangan untuk saya bu.”
 “Mengapa di Gondanglegi, mengapa tidak di turen saja? Di SMA sedayu sini juga bagus mutunya. Kamu tidak akan rugi bila bersekolah di sana. Sekolahnya sama dengan SMAN 1 Gondanglegi tapi akan lebih baik bila kamu mengambil yang di Turen saja.”
“Saya akan memikirkannya, bu.”

Ternyata banyak yang harus kupikirkan tidak hanya Ujian Nasional tapi keputusankua untuk melanjutkan sekolah. Tapi ada waktu untuk itu.
**************
Sudah 2 minggu setelah Ujian Nasional, tapi  aku tetap diwajibkan untuk masuk sekolah. Terkadang menyebalkan juga tidak melakukan apa – apa di sekolah, hanya ke sana kemari saja. Tapi kali ini berbeda, ada sebuah promosi SMA di sekolahku. Hari ini kelasku kedatangan guru dari SMAN 1 Turen, beliau bernama Pak Munadji. Beliau mempromosikan kelas unggulan terbaru yang sedang dibuat oleh SMAN 1 Turen yakni kelas akselerasi. Beliau menjelaskan keunggulan yang ada di program tersebut dan ucapannya seperti seorang motivator handal. Kami di suruh berpikir logis mengenai berbagai hal yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Aku merasa tergugah akibat ucapan dari Pak Munadji.

Aku memang berbeda dengan yang lain. Rista, Andis, dan Santi boleh saja meremehkanku dan melanjutkan sekolah di Malang tapi aku tak bisa karena keadaanku. Maka dari itu, benar aku tidak dapat bersekolah di Malang bahkan di Kepanjen pun tak bisa, tapi bila aku berhasil masuk ke kelas Akselerasi ini, hatiku pasti akan terobati. Batinku.

*************
Selama beberapa hari aku mempersiapkan syarat – syarat yang diperlukan agar bisa mengikuti test masuk program akselerasi. Lalu 2 hari sebelum test tulis diadakan, ku serahkan segala persyaratannya pada pihak sekolah dan mendapatkan nomor 058.

Semoga ini nomor keberuntunganku, ucapku dalam hati.

Saat ku pulang ku teringat April, dia juga ingin masuk ke program yang sam denganku tapi ia pernah bersikukuh denganku bahwa pendaftarannya akan dibuka bulan Maret padahal sudah sangat jelas bahwa akhir bulan Februari adalah hari terakhir penyerahan formulir dan ia sampai saat ini tidak tahu. Tinggal 2 hari sebelum test tulis dimulai. T`pi aku bingunng untuk memberi tahunya atau tidak.
Sampai tengah malam, ku bingung dan tidak bisa tidur. Hatiku serasa terbagi 2, di satu sisi aku tak mau memberi tahu April karena kelakuannya yang selalu menjelek – jelekkan aku tapi di sisi lain ku harus bisa mema’afkan dia dan yakin suatu saat April akan berubah. Hatiku benar – benar kacau.
Akhirnya, ku memutuskan untuk memberi tahu April melalui SMS,

Q tw ne dah mlm tp q ingn bri tw km bhwa bsok hri trkhr pndftaran program aksel. Ma’v Q bru bri tw skrg krn Q khbsan pulsa. Km hrs bw fc raport sampai smstr 5, lalu bwa uang 100 rb untuk biaya pendftaran

Kirim                                                                                        Kembali

Semoga ini keputusan yang baik.

*******
Setelah test tulis dan IQ ku jalani, sekarang hanya tinggal menunggu waktu kapan hasil program itu diumumkan. Aku hanya bisa berdo’a di setiap sholatku semoga aku dapat masuk program tersebut. Demi ayah dan ibuku, ku lakukan apapun untuk mereka.
Akhirnya hari pengumuman itu pun tiba, tapi kami harus menunggu begitu lama dikarenakan pihak sekolah harus mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malang terlambat.
Sudah 1 jam aku bersama teman – teman menunggu tapi pegawai yang membawa hasil tersebut tak kunjung datang, akhirnya di sekolah yang luas tersebut kami melakukan berbagai hal untuk menunggu, salah satunya  menonton drama Korea, “PASTA” melalui HP karena saat itu drama itu yang paling menarik.
Setelah hampir 3 jam, petugas yang membawa pengumuman itu datang. Pak Munadji menyuruh para murid untuk berkumpul di aula dan menjelaskan prosedur- prosedur yang harus dilakukan bila telah diterima menjadi salah satu murid akselerasi SMAN 1 Turen.
Lalu peserta disuruh melihat  pengumuman,

“ Alhamdulillah aku nomor 7.” Kataku.
“ Aku nomor 2.” Kata Ajeng.
“ Aku nomor 13.” Kata April.

Aku segera berlari ke tempat parker ke tempat ibuku yang setia menungguku,

“ Alhamdulillah,bu. Aku diterima, aku peringkat 7. Aku senang sekali.”
“Ibu juga senang, bila kamu diterima. Selamat ya nak. Tidak apa – apa kamu tidak mendapatkan peringkat di Ujian Nasional ini. Kamu diterima di sini juga membuatku bangga pada dirimu, nak”

Aku langsung memeluk ibuku dan hampir menangis.

Berhasil, Ya Allah hanya pada-Mu aku mengucap puji syukur. Senang rasanya melihat ibu tersenyum bangga padaku. Aku berjanji padamu ibu, ayah, aku akan melakukan yang terbaik untuk mereka dan takkan pernah mengecewakan mereka. Aku janji pada-Mu Ya Allah, ridlo’i-lah do’aku ini.

*********
Akhirnya aku menjadi salah satu murid di SMAN 1 Turen dan berada di kelas unggulan. Aku berjanji akan lakukan sekuat tenaga untuk membahagiakan kedua orang tuaku walau nanti akan banyak rintangan yang menghadang.
Ada May dan pelajaran yang belum ku kenal sama sekali takkan pernah membuatku goyah. Itulah tekad bulatku yakni lulus sebagai siswa yang berhasil di perguruan tinggi yang aku harapkan dan menjadi Dosen Muda Fisika.
**********
Hari ini aku telah memasuki semester 2, tahun 2013 mendatang ku harus siap menghadapi Ujian Nasional. Tapi ku percayaa pada para guru yang mengajar di kelas akselerasi karena mereka adalah guru super canggih menurutku. Segala peralatan di kelas pun telah diperlengkap lagi seperti AC dan komputer dalam kelas.
Tapi ku takkan lupa aku sangat mengucapkan puji syukur pada Allah SWT karena telah memberiku kesempatan untuk menduduki peringkat pertama di kelas akselerasi untuk semester 1 ini dan aku pikir itu bukan segalanya. Menurutku itu adalah kesenangan yang semu. Aku masih terus berjuang menghadapi segalanya, walau teman yang ku tolong dulu masih tetap tidak berubah terhadapku.

Bersambung….



Kamis, 12 Januari 2012


Hawa dingin masuk ke dalam selimut, membuatku terbangun dari tidur. Sungguh menyebalkan harus terbangun di tengah mimpi indahku. Beranjak ku tinggalkan tempat tidur dan menuju dapur karena ku harus bersiap – siap berangkat ke sekolah.

“Baru bangun toh cah ayu. Jam berapa ini ? Nggak terlambat ke sekolah tah.” kata kakakku, Angga.
Sungguh menyebalkan, kakakku satu – satunya ini suka sekali menggodaku, padahal dia sendiri telah bekerja di sebuah perusahaan produk makanan ternama di Tulung Agung, dan itu pertanda bahwa ia sudah dewasa tapi mengapa sifat kekanak – kanakannya tak kunjung hilang. Kebetulan bulan ini dia diizinkan pulang oleh bosnya karena kecekatannya dalam bekerja, kalau kakakku pulang itu pertanda bahwa sebuah bencana besar akan menyerangku dan Hanis, adik laki – lakiku.

“ Apa’an sih mas? Minggir aku mau mandi.” jawabku.
“ Ya,,,ya,,,silakan lewat tuan putri.” jawabnya.
“ Pagi – pagi sudah diganggu.” gerutuku.
******
 Namaku Tita, aku adalah seorang gadis remaja yang hidup sederhana dan bahagia bersama kedua orang tuaku dan 2 orang saudara laki - laki. Ayahku adalah seorang wirausahawan di kota, sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah  tangga. Aku sekarang duduk di kelas XII IPA 1 di salah satu SMA tersohor di Kota Sidoarjo, 3 bulan lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional dan test SNPTN. Tapi ada sesuatu hal yang tak terduga dalam hidupku akan segera dimulai.

******

Bel sekolah telah berbunyi, aku memasuki kelas dengan tenang. Kelasku berada di sebelah perpustakaan, walaupun tidak terlalu besar, kelasku selalu memberi kesan yang nyaman bagi siapapun yang memasukinya karena kebersihan dan keindahan kelas yang aku dan teman – teman ciptakan.
Pelajaran pertama hari ini adalah fisika, pelajaran yang paling aku sukai. Biasanya aku selalu bersaing mengerjakan soal – soal fisika bersama Yasmin, teman sebangku-ku. Dia adalah sahabatku sejak hari pertama ku masuk di SMAN 1 Sidoarjo. Dia adalah anak dari salah satu guru di sekolahku. Dia manis dan juga baik pada sesamanya. Aku sangat beruntung dia mau menjadi sahabatku.
Kami berdua suka menghabiskan waktu di perpustakaan. Kami sering belajar bersama ataupun bersenda gurau. Kami saling bercerita tentang masalah kami dan selalu berusaha memecahkannya bersama. Hari ini adalah ulang tahunnya. Aku telah menyiapkan sesuatu untuknya.

“Yasmin, nanti siang kamu ada waktu nggak?” tanyaku.
“Oh,,tidak bisa. Hari ini ku harus membantu ibuku untuk menyiapkan sesuatu yang penting di rumah. Maaf ya Tita. Lain kali saja.” jawab Yasmin.
“ Oh,,begitu. Baiklah , lain kali saja.” tukasku.
Sungguh mengesalkan. Padahal ku telah menyiapkan sesuatu untuknya, tapi tak apalah kalau dia memang tak bisa.
 Setelah bel istirahat berbunyi,

“Yasmin, ikut aku yuk!” ajakku.
“ Ke mana?” tanyanya.
“ Ada deh, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”
Aku pun mengajaknya ke taman di depan sekolah. Walaupun Kota Sidoarjo terkenal akan udaranya yang panas, ditambah dengan adanya Lumpur Lapindo di Porong yang semakin hari semakin bertambah parah. Itu tak berlaku di sekolahku, sebab sekolahku telah mengantisipasinya dengan lebih banyak menanam pohon di sekitar sekolah dan udara yang paling segar dan sejuk adalah taman di depan sekolah. Sehingga tempat ini merupakan tempat yang paling disenangi oleh para murid.
Kami memilih tempat duduk di bawah pohon yang besar. Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hijau, lalu kuberikan padanya.

“ Selamat ulang tahun ya. Katamu tadi, nanti siang kamu tidak bisa pergi bersamaku, jadi disinilah aku memberikan hadiah ulang tahunmu.” ucapku.
Yasmin seperti orang yang bingung, terkesan pada raut wajahnya yang tak bisa mengucapkan apa – apa. Yasmin memang termasuk orang yang mudah terharu atau simpati pada orang lain. Wajar ia bersikap seperti itu.
“ Oh Tita tak perlu repot – repot memberiku sebuah hadiah. Kamu ingat hari ulang tahunku saja lebih dari cukup. Terima kasih Tita, kau memang sahabatku.” katanya.
Aku senang menjaga persahabatanku dengan Yasmin, padahal kenyataannya aku termasuk tipe orang yang keras kepala, mudah marah dan kasar, tapi entah mengapa Yasmin bisa meluluhkan sifat – sifatku itu. Maka dari itu, aku berjanji pada diriku akan selalu menjaga persahabatan antara aku dengan Yasmin.
Setelah waktu istirahat berakhir, aku dan Yasmin segera memasuki kelas. Di kelas tampak segerombol anak yang sedang membicarakan sesuatu. Sepintas terdengar mereka sedang membicarakan tentang perguruan tinggi yang terkemuka. Tiba – tiba,
“ Kamu ingin berkuliah di mana, Tita?” tanya Yasmin.
Aku tersentak kaget.
“ Kamu kenapa kok tiba – tiba kaget begitu?” tanyanya lagi.
“ Oh nggak. Hanya saja ku belum menentukan pilihan di mana nanti akan berkuliah. Aku juga belum sempat membicarakannya dengan kedua orang tuaku.” jawabku.
“ Loh,,emang kenapa? Kamu harus segera menceritakannya pada ayah dan ibumu. Ini untuk kepentinganmu di masa depan, Tita. Kamu sudah pintar, selalu juara 1 di kelas, kamu pastinya ingin jadi apa yang kamu idam – idamkan, bukan. Seorang dosen muda fisika. Kamu pasti bisa meraihnya.”
Ndak  kok, bukan itu masalahnya. Cuma tadi ku punya firasat tidak enak saja. Tenanglah yas, nanti malam ku akan bercerita pada keluargaku.”
“Okelah.”
Ada apa ya mengapa ku jadi memikirkan orang di rumah, apa ada sangkut-pautnya dengan apa yang dibicarakan oleh teman – teman hari ini.

Kebetulan pelajaran terakhir, adalah BK. Hari ini Bu Kholidah memberi penjelasan mengenai perguruan tinggi pada kami semua. Terdapat ratusan perguruan tinggi yang ada di Pulau Jawa belum juga perguruan tinggi di luar Pulau Jawa. Namun yang paling tekenal dan dipercaya oleh masyarakat hanya ada 4 yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Tehnologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Tehnologi Surabaya (UTS). Menurut Bu Kholidah, keempat universitas itu memiliki daya saing yang tinggi di dunia kerja saat ini. Sepanjang pengarahan yang dilakukan Bu Kholidah, ku perhatikan dengan seksama.
Aku harus benar – benar selektif dalam memilih.
“ Kamu pilih yang mana?” tanya Ari.
“ Aku pilih di UGM saja, mungkin akan menyenangkan bila ku mengambil jurusan Teknik Fisika. Yang sulit saja sekalian.” jawabku.
“ Katamu tadi belum menentukan, ta. Kalau begitu aku ambil jurusan Biologi saja.” sahut Yasmin.
“ Wah,,wah,, ada rencana satu perguruan tinggi lagi nih.” kata Ari.
“ Mungkin” sahut aku dan Yasmin hampir bebarengan.
Kami bertiga pun tertawa.
******
Bel pulang pun berbunyi, rencana awal ingin mengajak Yasmin makan siang sebagai hadiah tambahan setelah pulang sekolah gagal, dengan terpaksa ku pulang dengan hati hampa. Hari ini juga bimbel tambahan diliburkan karena gurunya berhalangan hadir. Jadilah aku pulang sendiri ke rumah.
Sesampainya di rumah, ku berganti baju dan membantu ibu menyiapkan makan siang untuk keluarga di dapur.
“ Kakak dan Hanis ke mana, bu?” tanyaku.
“Kakakmu ada di kamarnya bermain dengan laptopmu, kalau adikmu mungkin sedang bermain dengan anak tetangga sebelah.”
“ Adakah yang perlu aku bantu, bu?”
“ Kalau kamu tidak capek, tolong tatakan ruang makannya,ya. Lalu panggil kakak dan adikmu untuk makan. Kamu pasti juga belum makan, kan.”
“ Baik, bu. Oh iya bu, nanti ayah pulangkan.”
“Ya nanti, ayahmu akan makan malam bersama kita lagi. Ada apa?”
“ Oh nggak, nanti ibu juga tahu sendiri.”
Setelah menata ruang makan, aku menuju kamar kakak.
“ Kak, ayo makan.” ajakku
“ Eh,,,,buka pintu tanpa mengetuknya. Weleh – weleh adikku yang cantik ini tidak diajarkan sopan santun ya sama gurunya.” jawabnya.
“ Ah,,kakak cerewet. Seperti tak pernah melakukannya saja saat memasuki kamarku.”
“Itu beda, kamu adik dan aku kakaknya. Lah bedakan.”
“ Tak tahu lah. Aku mau memanggil adik dulu untuk diajak makan. Sana cepat ke ruang makan.”

******
Malamnya, seperti biasa sambil menunggu kedatangan ayah, aku selalu menyempatkan membaca buku pelajaran ataupun buku kantong yang sering kupinjam dari temanku. Ditemani oleh adikku yang sedang belajar penjumlahan dan kakak yang sedang bermain laptop.
Lalu terdengar suara dari luar rumah.
“Assalamualaikum”
Adikku langsung berlari menuju pintu maklum masih kelas 1 SD dan aku mengikutinya.
“ Wa’alaikumsalam.Ayah sudah pulang. Ayo, ayah mandi dulu lalu makan bersama kami.” kataku.
“ Seharusnya kalian meninggalkanku dan makan terlebih dahulu. Dari pada ayah harus melihat kalian kelaparan seperti ini.”
“Tidak kok yah, tenang saja itu sudah seperti tradisi bagi kami, ya kan kak?”
“ Ya begitulah, dari semenjak ku kecil hingga sekarang.”

Lalu kami pun makan bersama, dan ku teringat akan apa yang dikatakan Yasmin,
“Yah, bolehkah aku mengutarakan sesuatu.”
“ Ayah juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“ Biar aku dulu, aku ingin kuliah di UGM, yah. Aku ingin mengambil jurusan Teknik Fisika. Aku ingin menjadi dosen muda di bidang itu. Apakah ayah mengizinkannya?”
Ayah hanya berdiam saja, tanpa ada isyarat ia meletakkan sendoknya dan meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar.
“ Ayah, ada apa? Apakah aku tak boleh mengambil jurusan itu? Ibu, ayah kenapa?” teriakku.
“ Nanti ayahmu akan menjelaskannya.” jawab ibu.
Kakak pun ikut menyahut,
“ Kalau menurutku ya, kamu itu bener pintar tapi kamu juga harus lihat juga ke bawah, jangan  hanya melihat cita – citamu yang ada di atas saja.”
“ Tapi kak, bukan itu masalahnya. Lihat saja tingkah ayah yang tiba – tiba saja berubah.”
“Tiap tindakan manusia itu pasti berlandaskan pada suatu alasan tertentu.” jawab kakak.
Lalu ayah keluar lagi dari kamarnya dan menyuruh semua anggota keluarga untuk berkumpul di ruang tamu. Ayah pun mulai berbicara,
“ Ayah ingin mengatakan sesuatu padamu, Tita. Bukannya ayah tadi bersikap begitu untuk melarangmu kuliah. Tapi sebelum itu ada satu permintaan untukmu. Sebagai anak perempuan satu – satunya di keluarga ini. Pertama – tama, ingatkah kamu anak Pak Rusdi sahabat ayah semenjak kecil dan sekarang menjadi kolega ayah.”
“ Oh Pak Rusdi itu, emang kenapa yah?”
“ Dia memiliki seorang anak laki – laki yang seumuran kamu.”
“Aku tahu, dia kan teman kecilku juga. Tapi ayah, jangan bilang ayah ingin menjodohkanku. Aku nggak mau titik.”
“Tapi, Pak Rusdi sahabat ayah dari kecil. Pak Rusdi ingin anaknya bisa mendapatkan wanita yang pantas dan ia mempercayaimu. Kamu tegas, pandai dan pekerja keras. Pak Rusdi ingin anaknya bisa menikah denganmu, Tita.”
“ AKU NGGAK MAU, yah. Titik.”
“ Tidak kamu harus memenuhi perintah ayah, kamu adalah anak perempuan satu – satunya. Cuma bertunangan saja setelah kamu mulai masuk kuliah, lalu kalian menikah setelah 1 atau 2 tahun kuliah. ”
“ Tapi ayah tidak bisa berbuat begini.”
“Aku adalah ayahmu jadi kamu harus menuruti ayah, kalau tak kamu tak perlu kuliah, bantu ibu saja dirumah.”
“ Tenanglah, yah. Ayah juga tidak bisa memaksakan hal itu kepada Tita. Tita berhak menentukan apa yang dia mau.” bela ibu.
“ Tapi lihatlah anak kita bu, dia tomboy di sekolah walau dia juara di kelas tapi dia tidak pernah berpacaran, tidak seperti anak-anak yang seumurannya.”
“ Aku tidak mau berpacaran karena ku ingin fokus pada pelajaranku,yah dan untuk mendapatkan nilai – nilai yang bisa membuatmu bangga.  Pokoknya aku tidak mau. Aku ingin jadi dosen dulu.”
Aku pun masuk ke dalam kamarku, ku sempat mendengar bahwa ayah benar – benar tidak akan membiayai kuliahku jika ku tetap tak mau dijodohkan dengan anaknya Pak Rusdi.

Aku benci hidup seperti ini. Aku tidak suka dikekang seperti ini.
Aku harus bisa buktikan bahwa aku bisa membuktikan bahwa cita – cita seseorang tak bisa dihalangi oleh apapun juga. Batinku.
******
Saat tengah malam, ku menyalakan laptopku dan aku mencari informasi di internet mengenai beasiswa yang dapat menguliahkanku dan memberikan harapan untukku menjadi seorang dosen tanpa bantuan ayah.
Akhirnya hamper 1 jam mencari, ku temukan beasiswa itu. Ku catat hal – hal yang perlu kusiapkan untuk mengikuti beasiswa itu.
Bismillahirrohmanirrohim. Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, aku percaya Engkau sangat menyayangiku dan ku tahu bahwa Engkau tahu aku tidak bermaksud untuk durhaka pada ayahku. Semoga kau memperlancar jalanku ini.Amin.
******

Hampir 2 bulan sejak saat itu, hubunganku dengan ayah menjadi agak renggang. Ayah tak mau mengajakku bicara dan hanya lewat perantara ibu saja. Tapi yang bisa kulakukan adalah menguatkan diri afar kejadian ini tidak mengganggu pelajaranku dan Ujian Nasionalku yang tinggal 1 minggu lagi.
Lalu saat sore hari, saat aku menyapu teras, seorang tukang pos berhenti di depan rumah. Ia mencari seseorang yang bernama Titania Dwi Rahmawati. Dan itu adalah aku, lalu ku terima surat itu. Di amplopnya tertera namaku dan logo dari beasiswa yang pernah ku daftar sekitar 2 bulan lalu.
Ku buka amplop itu, dan di sana tertera namaku pada nomor 56 dari 200 orang yang di terima untuk memilih perguruan tinggi yang diinginkan dan pilihanku saat itu adalah Universitas Indonesia dan aku tak menyangka bahwa itu adalah kenyataan. Aku langsung bersujud memanjatkan beribu syukur kepada Allah SWT karena Ia tak meninggalkanku sendirian dan memberikanku kesempatan untuk membuktikan sesuatu pada ayah. Lalu aku langsung berlari ke dapur dan memeluk ibu erat – erat,

“ Loh,,loh,,ada apa Tita?” tanya ibu bingung.

Dengan meneteskan air mata ku berkata pada ibu,

“Allah memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan ayah, bu. Aku di terima di Universitas Indonesia di Jakarta lewat sebuah program beasiswa terkemuka bu. Alhamdulillah bu, aku diterima oleh mereka.”
“ Alhamdulillah, matur suwun Ya Allah, sampeyan paringi anak kulo rezeki ingkang sae.”
“ Tapi,bagaimana aku memberi tahu ayah bu?”
“ Serahkan itu pada ibu.”

Lalu aku menelepon yasmin dan bercerita tentang ini. Dia bahagia bukan main tapi dia menyayangkan aku karena memilih perguruan tinggi yang terlalu jauh. Tapi ia merasa bahwa sudah saatnya ia berpisah denganku. Tinggal 7 hari ia bisa bersamaku dan ia ingin ku memanfaatkannya sebaik mungkin.
“ Itu pasti, ku akan bikin bermacam - macam kenangan denganmu dan juga dengan teman – teman yang lain.” jawabku.
Lalu setiap malam, ku selalu belajar – belajar dan belajar agar nilai UNAS-ku baik dan 100 % dapat diterima sebagai salah satu mahasiswi di Universitas Indonesia.
Tapi hingga Ujian Nasional berjalan, ayah belum juga mengajakku berbicara ataupun menyinggung soal diterimanya aku di Universitas Indonesia tanpa biaya apapun.
Apakah usahaku sia – sia ?  batinku.
Selama ujian ku tak mengalami hambatan apapun, sekarang hanya menunggu hasilnya saja. Aku juga harus bersiap – siap untuk berangkat ke Jakarta. Ibu sepertinya tidak rela melepaskanku, kakakku yang jail itupun ternyata memberiku support untuk tetap berjuang dan bersabar menghadapi ayah walau hanya melalui telepon terdengar nada tulus dari suara kakak. Ternyata kakak sayang padaku.Sedangkan ayah belum juga mengajakku berbicara, walaupun kata ibu, ayah tahu berita diterimanya aku di Universitas terkemuka. Tapi itu belum meluluhkan hatinya.
Setelah hasil ujianku keluar, ku langsung berangkat ke Jakarta. Kepergianku diiringi isak tangis ibu, adik dan teman – temanku yang mengantarkanku ke bandara.

“Hati – hati ya nak. Ibu restui kepergianmu, untuk mencapai cita – citamu. Do’a ibu selalu mengiringi setiap langkahmu. Di Jakarta juga keras, jagalah kondisimu dan juga pergaulanmu. Dan sebenarnya ayahmu juga senang kamu dapat berkuliah di sana dan ia meminta maaf atas kesalahan yang selama ini ia lakukan padamu.”
Perkataan ibu akhirnya membuatku luluh dan aku berjanji akan mencapai cita – citaku demi ibu dan ayah.
******
-6 tahun kemudian-

Rumahku sekarang terlihat berbeda. Warna cat pagar depan rumah sudah tampak pudar dengan warna dinding rumah yang sudah kusam. T`naman hias yang berada di pinggir – pinggir jalan utama tampak terawat dengan baik. Pohon mangga di samping rumahpun terlihat sudah berbuah. Aku pun mulai memasuki rumah, ada 2 sepeda motor di depan rumah.
Ada tamu rupanya.

“ Assalamualaikum”

Seorang anak menyambutku dengan wajah gembira,

“ Ibu, ibu, ayah, mbak Tita sudah pulang. Ibu ke sini, cepetan bu.”

Aku menduga itu pasti adikku, Hanis. Mungkin ia sudah kelas 1 SMP namun tingginya tidak sesuai dengan umurnya, seperti anak kelas 2 SMP.
Ibupun keluar dengan mata yang dipenuhi tetes air mata. Mungkin beliau kagum akan penampilanku yang kini memakai pakaian kemeja putih buatan merk terkenal dengan rok hitam di bawah lutut juga memakai high-heels. Di belakang ibu, tampak ayah yang juga tertegun melihatku.
Aku pun menyalami ibu, adik, dan juga ayahku yang akhirnya mengajakku berbicara untuk pertama kalinya setelah bertahun – tahun. Di belakang ayah, tampak Pak Rusdi dan seorang lelaki muda seumuranku yang tampak tak asing bagiku.
Kami pun berbincang – bincang dengan Pak Rusdi dan lelaki itu. Aku terus mengamati gerak – geriknya, terus berusaha mengingat apa yang pernah ku lupakan. Lalu dia mengajakku untuk duduk di teras depan. Herannya lagi dia tampak menunjukkan keakraban denganku layaknya pernah berteman lama. Dia pun mulai berbicara,
“Masa’ sudah lupa. Walau kita hanya 4 tahun berteman tapi masa’ sudah lupa.” kata dia.
“ Kamu siapa sih?” tanyaku.
“Aku Wahyu. Kita pernah sekelas waktu di UI. Kita ambil mata kuliah yang sama, Teknik Fisika. Hingga kita lulus S1 bersama – sama. Tapi saat melanjutkan ke S2, aku harus meneruskannya di Singapura dan meninggalkanmu. Dan sekarang lihat dirimu, telah menjadi seorang dosen Teknik Fisika di UI sedangkan aku dosen di ITS dekat sini.” jawabnya.
“Oh,,sebentar,,kamu Wahyu temanku di UI itu yang duduknya selalu memilih di sampingku.”
“Ya, itulah aku.”
“Mengapa kamu tidak bilang dari dulu, bahwa kamu anaknya Pak Rusdi, sahabat baik ayahku. Kita sekarang dipertemukan dalam keadaan yang begini pula. Sungguh memalukan.”
“ Tapi Tita, tahukah kamu alasanku mengapa aku mengambil kuliah yang sama denganmu?”
“ Mengapa?”
“ Karena aku ingin menjaga dan mengawasimu agar kamu baik – baik saja dan tak membuatku khawatir.”
“ Emang ada urusannya ta keadaanku dengan keadaanmu>”
“Bila kamu terluka misalnya hatimu terluka, sedih karena sesuatu,itu saja akan membuatku terluka karena aku tak bisa dipisahkan darimu, Tita. Kamu adalah segalanya bagiku.”
Aku langsung terdiam. Hatiku menjadi berdegup kencang, wajahku memerah seperti buah tomat, Wahyu teman yang selalu menemaniku saat ku kuliah di Jakarta adalah orang yang sama yang dulu ku tolak saat akan dijodohkan.
Ya Allah, Engkau Maha Penagsih lagi Maha Penyayang tidak hanya cita – citaku Kau wujudkaan tapi Engkau memberiku sebuah keajaiban yang sekarang sedang berada di depan mataku ini. Terima kasih Ya Allah atas segala yang telah kau takdirkan padaku.

THE END