Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Kamis, 07 Maret 2013
PIDATO BAHASA INDONESIA
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Yang terhormat kepada bapak dan ibu penguji...serta teman
– temanku yang saya banggakan,...
Marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah
SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nyalah kita dapat berkumpul dalam acara “Globalisasi
pada Remaja”ini dalam keadaan sehat wal’afiat.
Teman - teman yang berbahagia,
Di dunia yang
sangat modern saat ini, kita tak akan pernah terlepas dari namanya“
Globalisasi”, tidak terkecuali pula dengan remaja di negara kita. Hampir 90% dari mereka sudah akrab
bahkan menjadikan globalisasi tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Adapun sisanya yang tidak mengenal dan tidak memahami kata globalisasi, adalah
remaja yang masih jauh tinggal di dalam
suku pedalaman yang masih memegang teguh adat istiadat dan sebagian besar dari
mereka tidak menempuh jenjang pendidikan karena lebih memilih tinggal di rumah
untuk membantu orang tua.
Arus globalisasi
memang diiringi oleh kemajuan dan kecanggihan peralatan teknologi di sekitar
kita. Contohnya, dari komputer yang sederhana beralih ke laptop yang portable lalu sekarang siapa yang tidak
mengenal I-Pad, laptop versi touch-screen yang sangat digemari saat
ini. Sesungguhnya pengaruh kecanggihan teknologi tak berpandang jauh dari
remaja. Sebagaimana kita tahu semakin canggih teknologi yang kita gunakan maka
semakin mudah pula kehidupan kita dalam bersosialisasi maupun memenuhi
kebutuhan hidup. Dan terelakkan lagi dampak dari teknologi tersebut pasti akan
dialami pula oleh kalangan remaja.
Sesungguhnnya semua
sikap, perilaku dan tindakan manusia pastilah memiliki dampak tersendiri baik bagi
dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya, sama halnya dengan teknologi yang
diciptakan oleh manusia. Walaupun teknologi tersebut sangat akrab di pangkuan
kita, kita tak boleh mengabaikan akan dampaknya yang terkadang keruh jelasnya
tak dapat ditangkap oleh panca indera kita. Teknologi yang canggih dapat
dijadikan teman, ataupun dapat dijadikan sebagai lawan. Tentunya teman yang
baik pastilah membawa suatu dampak yang baik. Begitu pula dengan lawan, lawan
yang kejam juga dapat berdampak kejam pula pada diri kita. Hal ini dapat
dianalogikan dengan dampak teknologi yang dapat terjadi pada kalangan remaja.
Bila ditanya
tentang dampak positif dan negatif kecanggihan teknologi terhadap psikologi
remaja, sekarang mudah kita temukan pada teman-teman di sekitar kita, maupun pada
acara berita di televisi. Sebagai contoh, teman-teman kita yang ketagihan
dengan jejaring sosial seperti facebook
dan twitter, maraknya pornografi dan
pornoaksi yang mengerubungi kalangan remaja, free-sex dan narkoba. Hal ini tidak akan menutup kemungkinan bila semua
itu akan berujung pada kenakalan remaja.
Dari kondisi
psikologi saja, para remaja yang rentan akan semakin mengutamakan gengsi, trend dan mode yang berlaku saat ini.
Kebutuhan akan hausnya pendidikan mereka kesampingkan karena mereka telah
terlena dengan kemudahan hidup yang mereka alami dalam bergaul. Biasanya hal
ini dikarenakan mereka malu apabila diejek tidak gaul ataupun tidak modern oleh
teman sepergaulannya. Kondisi psikologi yang terbentuk inilah yang lama
kelamaan semakin merusak citra remaja dalam dunia pendidikan.
Walaupun tetap
segi positif pada teknologi saat ini masih ada, namun banyaknya para remaja
yang semakin tidak selektif dalam mempergunakan teknologi, semakin memperburuk
kondisi psikologi mereka. Bila ketidakselektifan ini dibiarkan, maka tindakan
kriminal ataupun yang tindakan yang melanggar Undang-Undang akan mudah
dilakukan oleh para remaja.
Oleh karenanya, sebagai
warga yang peduli akan nasib generasi penerus bangsa kita harus bahu-membahu
dalam membimbing, mengajarkan dan memperingatkan para remaja agar selalu
selektif dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi yang semakin canggih.
Hal ini demi menghindari dampak-dampak negatif yang dapat mempengaruhi
psikologi remaja.
Saya rasa cukup,
sekian dari pidato saya apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan saya
mohon maaf.
Wabillahi taufik wal
hidayah wass. wr. wb
Minggu, 04 Maret 2012
Sebuah paragraf yang baik adalah paragraf yang memiliki susunan
kalimat yang padu baik bentuk maupun makna kalimat tersebut dan umumnya hanya
terdiri atas sebuah ide pokok / gagasan utama diuraikan dalam beberapa kalimat
penjelas.
Gagasan utama merupakan pokok / inti utama dari penjelasan isi
paragraf. Gagasan utama dapat dikatakan sebagai sebagian kecil dari kalimat
utama karena gagasan utama umumnya ditemukan pada kalimat utama. Sedangkan kalimat penjelas merupakan kalimat
penjabaran dari makna apa yang ingin disampaikan oleh gagasan utama.
Berdasarkan letak gagasan utamnya, paragraf dibedakan menjadi 3
jenis yaitu :
a.
Paragraf Deduktif
b.
Paragraf Induktif
c.
Paragraf Deduktif – induktif
1.
Paragraf Deduktif
Paragraf ini
menggunakan pola pengembangan paragraf dari umum-khusus
yakni mengungkapkan sesuatu hal yang bersifat umum lalu dikuti dengan
penjelasan yang bersifat khusus dari pernyataan umum tersebut.
2.
Paragraf Induktif
Paragraf ini menggunakan pola pengembangan patagraf dari
khusus-umum yakni mengungkapkan sesuatu hal yang bersifat khusus terlebih
dahulu lalu diikuti oleh sebuah kalimat yang bersifat umum atau penegas yang
biasa disebut dengan sebuah kalimat kesimpulan.
3.
Paragraf Deduktif – induktif
Paragraf ini menggunakan pola campuran, yakni merupakan paragraf yang
dimulai dengan sebuah kalimat utama, diikuti oleh beberapa kalimat kalimat
penjelas, dan diakhiri oleh sebuah kalimat utama yang mempunyai ide pokok sama dengan kalimat yang
pertama. Intinya pada paragraf ini terdapat dua kalimat utama yakni pada awal
kalimat dan di akhir kalimat.
Contoh dan ciri – ciri masing – masing paragraf :
Paragraf
Deduktif
|
Keberhasilan dunia pertanian membawa dampak pada peningkatan
kesejahteraan. Salah satu cara yang
ditempuh adalah dengan pemuliaan tanaman. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan
kuantitas dan kualitas produksi tanaman pangan. Usaha
tersebut diterapkan pada hampir semua jenis tanaman,
misalnya: padi, palawija, buah, sayur, dan tanaman hias. Padi yang ditemukan
sekarang mempunyai umur singkat, batang pendek, dan butir gabah
banyak. Buah-buahan yang dijual di pasar selalu
berkualitas tinggi. Begitu juga dengan sayur dan tanaman hias, semuanya
menunjukkan kondisi
baik.
Analisis :
-
Kalimat utama berada di
awal paragraf (kalimat berwarna merah)
-
Kalimat – kalimat
penjelas berada tepat setelah kalimat utama (kalimat berwarna hitam)
|
Ciri – ciri :
-
Letak kalimat utama berada di awal paragraf
tersebut
-
Biasanya kalimat tersebut mencakup / memayungi
makna dari kalimat – kalimat penjelas berikutnya
-
Berpola umum – khusus
|
Paragraf
Induktif
|
Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar
sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif
kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab
soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah
materi yang tidak dikuasai dicari di buku. Itulah
beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional
Analisis
:
-
Kalimat utama
berada di akhir paragraf ( kalimat berwarna merah )
-
Didahului dengan
kalimat – kalimat penjelas lalu diakhiri kalimat utama tersebut
|
Ciri – ciri :
-
Kalimat utama berada di akhir kalimat
-
Umumnya kalimat utama disebut juga sebagai kalimat
kesimpulan karena menggunakan kata – kata konjungsi sebagai penyimpul
antarkalimat
- :
Berpola khusus – umum
|
Paragraf
Deduktif – Induktif
|
Beberapa tips belajar menjelang Ujian
Akhir Nasional (UAN). Jangan pernah belajar
“dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari
sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal.
Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di
buku. Oleh karena itu, maka sebaiknya para guru
memberitahukan tips belajar menjelang UAN.
Analisis :
-
Kalimat utamanya tidak hanya berada pada awal
paragraf namun di akhir kalimat pun juga terdapat kalimat utama sebagai
penegas kembali kalimat utama sebelumnya
|
Ciri – ciri :
-
Kalimat utamanya berada di depan dan diakhir
kalimat
-
Berpola campuran
|
Senin, 13 Februari 2012
DI ANTARA PILIHAN DAN KEWAJIBAN
Hawa dingin masuk ke dalam
selimut, membuatku terbangun dari tidur. Sungguh menyebalkan harus terbangun di
tengah mimpi indahku. Beranjak ku tinggalkan tempat tidur dan menuju dapur
karena ku harus bersiap – siap berangkat ke sekolah.
“Baru bangun toh cah ayu.
Jam berapa ini ? Nggak terlambat ke sekolah tah.” kata kakakku,
Angga.
Sungguh menyebalkan, kakakku
satu – satunya ini suka sekali menggodaku, padahal dia sendiri telah bekerja di
sebuah perusahaan produk makanan ternama di Tulung Agung, dan itu pertanda
bahwa ia sudah dewasa tapi mengapa sifat kekanak – kanakannya tak kunjung
hilang. Kebetulan bulan ini dia diizinkan pulang oleh bosnya karena
kecekatannya dalam bekerja, kalau kakakku pulang itu pertanda bahwa sebuah
bencana besar akan menyerangku dan Hanis, adik laki – lakiku.
“ Apa’an sih mas? Minggir aku mau mandi.” jawabku.
“ Ya,,,ya,,,silakan lewat tuan putri.” jawabnya.
“ Pagi – pagi sudah diganggu.” gerutuku.
******
Namaku Tita, aku adalah
seorang gadis remaja yang hidup sederhana bersama kedua orang tuaku dan 2 orang
saudara laki - laki. Ayahku adalah seorang buruh pabrik di kota Gresik, i`
selalu pulang seminggu sekali, sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah
tangga tapi ia biasanya melakukan kerja sambilan sebagai pembuat kue. Aku
sekarang duduk di kelas IX G di SMP Negeri 1 Turen, salah satu SMP yang
terkenal di Kabupaten Malang, beberapa hari lagi aku akan menghadapi Ujian
Nasional. Tapi ada sesuatu hal yang tak disangka terjadi dalam hidupku.
******
Bel sekolah telah berbunyi, aku
memasuki kelas dengan tenang. Kelasku berada di sebelah perpustakaan, walaupun
tidak terlalu besar, kelasku masih memberi kesan yang nyaman bagi siapapun yang
memasukinya walaupun untuk menerapkan tugas piket di kelasku sangatlah sulit,
berapapun denda yang ditentukan tidak berpengaruh. Mungkin karena kelasku dari
tahun pertama sampai tahun ketiga ini memang pantas untuk diberi nama
kelas yang tidak kompak oleh para guru yang mengajar karena kesombongan anak –
anak di kelasku.
Menurutku omongan para
guru mengenai kelasku memang benar. Menurutku, kelas IX G itu dari tahun
pertama telah terbagi secara tidak langsung menjadi 3 golongan, yaitu :
golongan anak orang kaya, golongan anak biasa dan golongan yang netral. Mereka
mengelompokkan diri dalam segala hal, misal tugas kelompok maka akan membentuk
kelompok yang sama setiap anggotanya yang seakan – akan permanen tidak ada
penggantinya. Sampai – sampai para guru heran mengapa setiap tugas kelompok
selalu anggotanya sama. Tapi aku tak peduli dengan teman – temanku karena
bagiku mereka adalah aktris yang paling terbaik di antara aktris yang ada.
Mengapa?
Kalian takkan menyangkanya.
Jika aku menceritakannya.
**********
Pelajaran pertama hari ini
adalah fisika, pelajaran yang paling aku sukai. Sejak Bu Lilik memperkenalkanku
dengan sangat dekat pad` fisika, membuatku jatuh hati pada pelajaran yang satu
ini. Aku selalu mendapat nilai yang terbaik pada pelajaran ini, dan ku harap
dapat melakukan segalanya dengan baik layaknya mengerjakan soal – soal fisika.
“ Tanty, tanty,,aku tidak mengerti cara yang ini, tolong ajarin
aku?” tanya April.
Dasar muka dua, batinku.
Sambil menghela nafas aku menjawabnya,
“ Oh ini, ya tinggal memasukkan angka – angka yang tertera dengan
mencocokkannya pada simbol yang ada, “m” untuk massa, “c” untuk kalor jenis dan
“▲t” untuk perbedaan suhu. Gampang
lo, may.”
“Aku masih gak ngerti tan, yo wis aku tak takon
Hanum ae.” jawab April.
Dengan hentakan pelan April
marah padaku, dia pergi meninggalkanku.
Seandainya Mila tak
bilang padaku bahwa sebegitu bencinya kamu ke aku gara – gara kelakuan yang
sampai saat ini tidak ku mengerti, mungkin aku akan dapat bersikap seperti
biasa padamu. Tapi aku terlanjur tahu April bahwa kamu tak suka dengan aku dan
kamu seakan berpura –pura tak terjadi apa – apa di depanku, hanya untuk
bertanya pelajaran yang sulit saja, Ma’afkan aku, April. batinku.
Aku memang sangat bersyukur
pada Allah SWT karena telah diberikan otak yang sangat jernih untuk memikir dan
tidak sepatutnya ku berbuat seperti itu pada April. Tapi apa yang terjadi pada
April terjadi pada anak – anak yang tergolong kaya di kelasku, mereka hanya
baik di depanku tapi tidak di belakangku. Dan kasihannya aku ketika harus
menyaksikan acting mereka selama 3 tahun dengan memendam hati yang telah
berurat. Sungguh terkadang ku marah pada Allah SWT mengapa ku termasuk ke dalam
kelas G selama 3 tahun berturut – turut. Tapi sama saja, ku hanya dapat
bersabar untuk saat ini karena hanya tinggal menghitung hari Ujian Nasional
akan dimulai. Dan aku tak boleh memikirkan hal lain selain itu.
Bel istirahat berbunyi, semua
anak keluar kelas dan langsung pergi menuju kantin, tapi yang ku lakukan adalah
tak ada. Memang selama kelas IX ini, ku sudah jarang pergi ke kantin. Aku bukan
memanfaatkan waktu untuk belajar tapi merasa ku sudah tak ada teman lagi yang
menemaniku ke kantin atau yang lain jadi lebih baik aku di kelas saja walau
tidak melakukan apa – apa.
Tapi terkadang sahabatku yang
datang ke kelas untuk mengajakku keluar. Menurutku hanya dia yang akan berkesan
baik di hatiku. Nama dia, Yasmin. Dia duduk di kelas IX C memang kelas kami
agak berjauhan tapi dia rela datang ke kelasku agar aku tak merenungi sikap
teman – temanku di kelas. Dia tahu segala problemaku.
Dan hari ini dia datang,
“Tita, ayo keluar yuk!” ajaknya.
“Kita mau ke mana?” tanyaku.
“Ke tempat suram.” Jawabnya.
Dia mengajakku ke perpustakaan
sekolah, katanya dia ingin menceritakan sesuatu padaku,
“Apa yang mau kamu ceritakan padaku?”
“Aku akan meneruskan sekolah ke Sidoarjo, Tita. Ku
ingin bersekolah di sana dan selama di Sidoarjo, ku akan tinggal bersama
budeku.” Jawabnya.
“Apa? Itu tidak bisa. Kamu bilang kamu akan meneruskan sekolah di
sini, di Malang. Bagaimana kamu bisa berbuat begini padaku? Aku akan
sendirian.”
“Aku akan senang bila kamu terus menghubungiku, walaupun aku jauh
darimu. Kamu kan sahabatku pasti mengerti.” Pintanya.
“ Aku mengerti. Mungkin ada alasan mengapa kamu memilih jalan
itu.”
Kring…kring…kring…bel masuk pun berbunyi dengan berat hati aku
berjalan menuju kelas.
Yasmin telah menentukan
jalannya untuk meneruskan sekolah ke Sidoarjo, bagaimana dengan aku. Batinku.
Pelajaran berlangsung
sebagaimana mestinya, hingga bel pulang berbunyi. Aku langsung mencari angkutan
umum untuk segera pulang.
“ Sial, aku kan les Bahasa
Inggris, sayang sekali tak bisa langsung pulang.” Gerutuku.
Aku pun mengubah arah jalanku menuju tempat kursusku. Aku
mengambil kursus di rumah Bu Ike. Bu Ike adalah guru kursus sekaligus guru di
kelasku. Sudah 2 tahun aku di sana dan sekarang hari terakhir les di Bu Ike. Tempat
kursusku tidak terlau besar tapi nyaman untuk dijadikan tempat belajar. Aku
paling senang dengan kebun di belakang rumah Bu Ike, penuh dengan buah – buahan
dan tak jarang kami diizinkan untuk mengambil beberapa buah untuk dimakan. Aku
sering mengambil buahnya untuk dibawa pulang.
Kursus pun dimulai sekitar pukul 13.30, dan berakhir pukul 14.45.
Tapi kali ini berbeda, aku tidak diperbolehkan pulang oleh Bu
Ike.
“Tanty, sebentar ibu mau tanya?”
“Ada apa, bu?” tanyaku.
“Apa kamu benar akan melanjutkan sekolah di SMAN 1 Gondanglegi,
mengapa kamu tidak melanjutkan di Malang, kamu pantas melanjutkan di Malang
dengan kemampuanmu yang bagus?”
“Mmmm…ya bu saya juga mengerti. Saya juga ingin seperti itu tapi
saya memilih sekolah itu karena ayah saya,bu. Beliau berpikir bila saya
mengambil sekolah SMA yang murah, akan memungkinkan bagi saya melanjutkan lagi
ke jenjang perguruan tinggi, karena ayah mempunyai waktu untuk menabung,
membuat cadangan untuk saya bu.”
“Mengapa di Gondanglegi, mengapa tidak di turen saja? Di
SMA sedayu sini juga bagus mutunya. Kamu tidak akan rugi bila bersekolah di
sana. Sekolahnya sama dengan SMAN 1 Gondanglegi tapi akan lebih baik bila kamu
mengambil yang di Turen saja.”
“Saya akan memikirkannya, bu.”
Ternyata banyak yang harus
kupikirkan tidak hanya Ujian Nasional tapi keputusankua untuk melanjutkan
sekolah. Tapi ada waktu untuk itu.
**************
Sudah 2 minggu setelah Ujian
Nasional, tapi aku tetap diwajibkan untuk masuk sekolah. Terkadang menyebalkan
juga tidak melakukan apa – apa di sekolah, hanya ke sana kemari saja. Tapi kali
ini berbeda, ada sebuah promosi SMA di sekolahku. Hari ini kelasku kedatangan
guru dari SMAN 1 Turen, beliau bernama Pak Munadji. Beliau mempromosikan kelas
unggulan terbaru yang sedang dibuat oleh SMAN 1 Turen yakni kelas akselerasi.
Beliau menjelaskan keunggulan yang ada di program tersebut dan ucapannya
seperti seorang motivator handal. Kami di suruh berpikir logis mengenai
berbagai hal yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Aku merasa tergugah
akibat ucapan dari Pak Munadji.
Aku memang berbeda
dengan yang lain. Rista, Andis, dan Santi boleh saja meremehkanku dan
melanjutkan sekolah di Malang tapi aku tak bisa karena keadaanku. Maka dari
itu, benar aku tidak dapat bersekolah di Malang bahkan di Kepanjen pun tak
bisa, tapi bila aku berhasil masuk ke kelas Akselerasi ini, hatiku pasti akan
terobati. Batinku.
*************
Selama beberapa hari aku
mempersiapkan syarat – syarat yang diperlukan agar bisa mengikuti test masuk
program akselerasi. Lalu 2 hari sebelum test tulis diadakan, ku serahkan segala
persyaratannya pada pihak sekolah dan mendapatkan nomor 058.
Semoga ini nomor
keberuntunganku, ucapku dalam hati.
Saat ku pulang ku teringat
April, dia juga ingin masuk ke program yang sam denganku tapi ia pernah
bersikukuh denganku bahwa pendaftarannya akan dibuka bulan Maret padahal sudah
sangat jelas bahwa akhir bulan Februari adalah hari terakhir penyerahan
formulir dan ia sampai saat ini tidak tahu. Tinggal 2 hari sebelum test tulis
dimulai. T`pi aku bingunng untuk memberi tahunya atau tidak.
Sampai tengah malam, ku bingung
dan tidak bisa tidur. Hatiku serasa terbagi 2, di satu sisi aku tak mau memberi
tahu April karena kelakuannya yang selalu menjelek – jelekkan aku tapi di sisi
lain ku harus bisa mema’afkan dia dan yakin suatu saat April akan berubah.
Hatiku benar – benar kacau.
Akhirnya, ku memutuskan untuk
memberi tahu April melalui SMS,
Q tw ne dah mlm tp q
ingn bri tw km bhwa bsok hri trkhr pndftaran program aksel. Ma’v Q bru bri tw
skrg krn Q khbsan pulsa. Km hrs bw fc raport sampai smstr 5, lalu bwa uang 100
rb untuk biaya pendftaran
Kirim Kembali
Semoga ini keputusan
yang baik.
*******
Setelah test tulis dan IQ ku
jalani, sekarang hanya tinggal menunggu waktu kapan hasil program itu
diumumkan. Aku hanya bisa berdo’a di setiap sholatku semoga aku dapat masuk
program tersebut. Demi ayah dan ibuku, ku lakukan apapun untuk mereka.
Akhirnya hari pengumuman itu
pun tiba, tapi kami harus menunggu begitu lama dikarenakan pihak sekolah harus
mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten
Malang terlambat.
Sudah 1 jam aku bersama teman –
teman menunggu tapi pegawai yang membawa hasil tersebut tak kunjung datang,
akhirnya di sekolah yang luas tersebut kami melakukan berbagai hal untuk
menunggu, salah satunya menonton drama Korea, “PASTA” melalui HP karena
saat itu drama itu yang paling menarik.
Setelah hampir 3 jam, petugas
yang membawa pengumuman itu datang. Pak Munadji menyuruh para murid untuk
berkumpul di aula dan menjelaskan prosedur- prosedur yang harus dilakukan bila
telah diterima menjadi salah satu murid akselerasi SMAN 1 Turen.
Lalu peserta disuruh
melihat pengumuman,
“ Alhamdulillah aku nomor 7.” Kataku.
“ Aku nomor 2.” Kata Ajeng.
“ Aku nomor 13.” Kata April.
Aku segera berlari ke tempat
parker ke tempat ibuku yang setia menungguku,
“ Alhamdulillah,bu. Aku diterima, aku peringkat 7. Aku senang
sekali.”
“Ibu juga senang, bila kamu diterima. Selamat ya nak. Tidak apa –
apa kamu tidak mendapatkan peringkat di Ujian Nasional ini. Kamu diterima di
sini juga membuatku bangga pada dirimu, nak”
Aku langsung memeluk ibuku dan hampir menangis.
Berhasil, Ya Allah hanya
pada-Mu aku mengucap puji syukur. Senang rasanya melihat ibu tersenyum bangga
padaku. Aku berjanji padamu ibu, ayah, aku akan melakukan yang terbaik untuk
mereka dan takkan pernah mengecewakan mereka. Aku janji pada-Mu Ya Allah,
ridlo’i-lah do’aku ini.
*********
Akhirnya aku menjadi salah satu murid di SMAN 1 Turen dan berada
di kelas unggulan. Aku berjanji akan lakukan sekuat tenaga untuk membahagiakan
kedua orang tuaku walau nanti akan banyak rintangan yang menghadang.
Ada May dan pelajaran yang belum ku kenal sama sekali takkan
pernah membuatku goyah. Itulah tekad bulatku yakni lulus sebagai siswa yang berhasil
di perguruan tinggi yang aku harapkan dan menjadi Dosen Muda Fisika.
**********
Hari ini aku telah memasuki
semester 2, tahun 2013 mendatang ku harus siap menghadapi Ujian Nasional. Tapi
ku percayaa pada para guru yang mengajar di kelas akselerasi karena mereka
adalah guru super canggih menurutku. Segala peralatan di kelas pun telah
diperlengkap lagi seperti AC dan komputer dalam kelas.
Tapi ku takkan lupa aku sangat
mengucapkan puji syukur pada Allah SWT karena telah memberiku kesempatan untuk
menduduki peringkat pertama di kelas akselerasi untuk semester 1 ini dan aku
pikir itu bukan segalanya. Menurutku itu adalah kesenangan yang semu. Aku masih
terus berjuang menghadapi segalanya, walau teman yang ku tolong dulu masih
tetap tidak berubah terhadapku.
Bersambung….
Kamis, 12 Januari 2012
Hawa dingin masuk ke dalam selimut,
membuatku terbangun dari tidur. Sungguh menyebalkan harus terbangun di tengah
mimpi indahku. Beranjak ku tinggalkan tempat tidur dan menuju dapur karena ku
harus bersiap – siap berangkat ke sekolah.
“Baru bangun toh cah ayu. Jam berapa ini ? Nggak
terlambat ke sekolah tah.” kata
kakakku, Angga.
Sungguh menyebalkan, kakakku satu –
satunya ini suka sekali menggodaku, padahal dia sendiri telah bekerja di sebuah
perusahaan produk makanan ternama di Tulung Agung, dan itu pertanda bahwa ia
sudah dewasa tapi mengapa sifat kekanak – kanakannya tak kunjung hilang. Kebetulan
bulan ini dia diizinkan pulang oleh bosnya karena kecekatannya dalam bekerja, kalau
kakakku pulang itu pertanda bahwa sebuah bencana besar akan menyerangku dan
Hanis, adik laki – lakiku.
“ Apa’an sih mas? Minggir aku mau mandi.” jawabku.
“ Ya,,,ya,,,silakan lewat tuan putri.” jawabnya.
“ Pagi – pagi sudah diganggu.” gerutuku.
******
Namaku
Tita, aku adalah seorang gadis remaja yang hidup sederhana dan bahagia bersama kedua
orang tuaku dan 2 orang saudara laki - laki. Ayahku adalah seorang wirausahawan
di kota, sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Aku sekarang duduk di kelas XII IPA 1
di salah satu SMA tersohor di Kota Sidoarjo, 3 bulan lagi aku akan menghadapi
Ujian Nasional dan test SNPTN. Tapi ada sesuatu hal yang tak terduga dalam
hidupku akan segera dimulai.
******
Bel sekolah telah berbunyi, aku memasuki
kelas dengan tenang. Kelasku berada di sebelah perpustakaan, walaupun tidak
terlalu besar, kelasku selalu memberi kesan yang nyaman bagi siapapun yang
memasukinya karena kebersihan dan keindahan kelas yang aku dan teman – teman
ciptakan.
Pelajaran pertama hari ini adalah fisika,
pelajaran yang paling aku sukai. Biasanya aku selalu bersaing mengerjakan soal
– soal fisika bersama Yasmin, teman sebangku-ku. Dia adalah sahabatku sejak
hari pertama ku masuk di SMAN 1 Sidoarjo. Dia adalah anak dari salah satu guru
di sekolahku. Dia manis dan juga baik pada sesamanya. Aku sangat beruntung dia
mau menjadi sahabatku.
Kami berdua suka menghabiskan waktu di
perpustakaan. Kami sering belajar bersama ataupun bersenda gurau. Kami saling
bercerita tentang masalah kami dan selalu berusaha memecahkannya bersama. Hari
ini adalah ulang tahunnya. Aku telah menyiapkan sesuatu untuknya.
“Yasmin, nanti siang kamu ada waktu nggak?” tanyaku.
“Oh,,tidak bisa. Hari ini ku harus
membantu ibuku untuk menyiapkan sesuatu yang penting di rumah. Maaf ya Tita.
Lain kali saja.” jawab Yasmin.
“ Oh,,begitu. Baiklah , lain kali saja.”
tukasku.
Sungguh
mengesalkan. Padahal ku telah menyiapkan sesuatu untuknya, tapi tak apalah
kalau dia memang tak bisa.
Setelah bel istirahat berbunyi,
“Yasmin, ikut aku yuk!” ajakku.
“ Ke mana?” tanyanya.
“ Ada deh, sebenarnya ada sesuatu yang
ingin kutunjukkan padamu.”
Aku pun mengajaknya ke taman di depan
sekolah. Walaupun Kota Sidoarjo terkenal akan udaranya yang panas, ditambah
dengan adanya Lumpur Lapindo di Porong yang semakin hari semakin bertambah
parah. Itu tak berlaku di sekolahku, sebab sekolahku telah mengantisipasinya
dengan lebih banyak menanam pohon di sekitar sekolah dan udara yang paling
segar dan sejuk adalah taman di depan sekolah. Sehingga tempat ini merupakan
tempat yang paling disenangi oleh para murid.
Kami memilih tempat duduk di bawah pohon
yang besar. Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hijau, lalu kuberikan
padanya.
“ Selamat ulang tahun ya. Katamu tadi, nanti siang kamu tidak
bisa pergi bersamaku, jadi disinilah aku memberikan hadiah ulang tahunmu.”
ucapku.
Yasmin seperti orang yang bingung,
terkesan pada raut wajahnya yang tak bisa mengucapkan apa – apa. Yasmin memang
termasuk orang yang mudah terharu atau simpati pada orang lain. Wajar ia
bersikap seperti itu.
“ Oh Tita tak perlu repot – repot
memberiku sebuah hadiah. Kamu ingat hari ulang tahunku saja lebih dari cukup.
Terima kasih Tita, kau memang sahabatku.” katanya.
Aku senang menjaga persahabatanku dengan Yasmin,
padahal kenyataannya aku termasuk tipe orang yang keras kepala, mudah marah dan
kasar, tapi entah mengapa Yasmin bisa meluluhkan sifat – sifatku itu. Maka dari
itu, aku berjanji pada diriku akan selalu menjaga persahabatan antara aku
dengan Yasmin.
Setelah waktu istirahat berakhir, aku dan
Yasmin segera memasuki kelas. Di kelas tampak segerombol anak yang sedang
membicarakan sesuatu. Sepintas terdengar mereka sedang membicarakan tentang
perguruan tinggi yang terkemuka. Tiba – tiba,
“ Kamu ingin berkuliah di mana, Tita?”
tanya Yasmin.
Aku tersentak kaget.
“ Kamu kenapa kok tiba – tiba kaget
begitu?” tanyanya lagi.
“ Oh nggak.
Hanya saja ku belum menentukan pilihan di mana nanti akan berkuliah. Aku juga
belum sempat membicarakannya dengan kedua orang tuaku.” jawabku.
“ Loh,,emang kenapa? Kamu harus segera menceritakannya
pada ayah dan ibumu. Ini untuk kepentinganmu di masa depan, Tita. Kamu sudah
pintar, selalu juara 1 di kelas, kamu pastinya ingin jadi apa yang kamu idam –
idamkan, bukan. Seorang dosen muda fisika. Kamu pasti bisa meraihnya.”
“ Ndak kok, bukan itu masalahnya. Cuma tadi ku punya
firasat tidak enak saja. Tenanglah yas, nanti malam ku akan bercerita pada
keluargaku.”
“Okelah.”
Ada
apa ya mengapa ku jadi memikirkan orang di rumah, apa ada sangkut-pautnya
dengan apa yang dibicarakan oleh teman – teman hari ini.
Kebetulan pelajaran terakhir, adalah BK.
Hari ini Bu Kholidah memberi penjelasan mengenai perguruan tinggi pada kami
semua. Terdapat ratusan perguruan tinggi yang ada di Pulau Jawa belum juga
perguruan tinggi di luar Pulau Jawa. Namun yang paling tekenal dan dipercaya
oleh masyarakat hanya ada 4 yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut
Tehnologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Tehnologi
Surabaya (UTS). Menurut Bu Kholidah, keempat universitas itu memiliki daya saing
yang tinggi di dunia kerja saat ini. Sepanjang pengarahan yang dilakukan Bu
Kholidah, ku perhatikan dengan seksama.
Aku
harus benar – benar selektif dalam memilih.
“ Kamu pilih yang mana?” tanya Ari.
“ Aku pilih di UGM saja, mungkin akan
menyenangkan bila ku mengambil jurusan Teknik Fisika. Yang sulit saja
sekalian.” jawabku.
“ Katamu tadi belum menentukan, ta. Kalau
begitu aku ambil jurusan Biologi saja.” sahut Yasmin.
“ Wah,,wah,, ada rencana satu perguruan
tinggi lagi nih.” kata Ari.
“ Mungkin” sahut aku dan Yasmin hampir
bebarengan.
Kami bertiga pun tertawa.
******
Bel pulang pun berbunyi, rencana awal
ingin mengajak Yasmin makan siang sebagai hadiah tambahan setelah pulang
sekolah gagal, dengan terpaksa ku pulang dengan hati hampa. Hari ini juga
bimbel tambahan diliburkan karena gurunya berhalangan hadir. Jadilah aku pulang
sendiri ke rumah.
Sesampainya di rumah, ku berganti baju dan
membantu ibu menyiapkan makan siang untuk keluarga di dapur.
“ Kakak dan Hanis ke mana, bu?” tanyaku.
“Kakakmu ada di kamarnya bermain dengan
laptopmu, kalau adikmu mungkin sedang bermain dengan anak tetangga sebelah.”
“ Adakah yang perlu aku bantu, bu?”
“ Kalau kamu tidak capek, tolong tatakan
ruang makannya,ya. Lalu panggil kakak dan adikmu untuk makan. Kamu pasti juga
belum makan, kan.”
“ Baik, bu. Oh iya bu, nanti ayah
pulangkan.”
“Ya nanti, ayahmu akan makan malam bersama
kita lagi. Ada apa?”
“ Oh nggak,
nanti ibu juga tahu sendiri.”
Setelah menata ruang makan, aku menuju
kamar kakak.
“ Kak, ayo makan.” ajakku
“ Eh,,,,buka pintu tanpa mengetuknya. Weleh – weleh adikku yang cantik ini
tidak diajarkan sopan santun ya sama gurunya.” jawabnya.
“ Ah,,kakak cerewet. Seperti tak pernah
melakukannya saja saat memasuki kamarku.”
“Itu beda, kamu adik dan aku kakaknya. Lah
bedakan.”
“ Tak tahu lah. Aku mau memanggil adik
dulu untuk diajak makan. Sana cepat ke ruang makan.”
******
Malamnya, seperti biasa sambil menunggu
kedatangan ayah, aku selalu menyempatkan membaca buku pelajaran ataupun buku
kantong yang sering kupinjam dari temanku. Ditemani oleh adikku yang sedang belajar
penjumlahan dan kakak yang sedang bermain laptop.
Lalu terdengar suara dari luar rumah.
“Assalamualaikum”
Adikku langsung berlari menuju pintu
maklum masih kelas 1 SD dan aku mengikutinya.
“ Wa’alaikumsalam.Ayah sudah pulang. Ayo,
ayah mandi dulu lalu makan bersama kami.” kataku.
“ Seharusnya kalian meninggalkanku dan makan
terlebih dahulu. Dari pada ayah harus melihat kalian kelaparan seperti ini.”
“Tidak kok yah, tenang saja itu sudah
seperti tradisi bagi kami, ya kan kak?”
“ Ya begitulah, dari semenjak ku kecil
hingga sekarang.”
Lalu kami pun makan bersama, dan ku
teringat akan apa yang dikatakan Yasmin,
“Yah, bolehkah aku mengutarakan sesuatu.”
“ Ayah juga ingin mengatakan sesuatu
padamu.”
“ Biar aku dulu, aku ingin kuliah di UGM,
yah. Aku ingin mengambil jurusan Teknik Fisika. Aku ingin menjadi dosen muda di
bidang itu. Apakah ayah mengizinkannya?”
Ayah hanya berdiam saja, tanpa ada isyarat
ia meletakkan sendoknya dan meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar.
“ Ayah, ada apa? Apakah aku tak boleh
mengambil jurusan itu? Ibu, ayah kenapa?” teriakku.
“ Nanti ayahmu akan menjelaskannya.” jawab
ibu.
Kakak pun ikut menyahut,
“ Kalau menurutku ya, kamu itu bener pintar tapi kamu juga harus lihat
juga ke bawah, jangan hanya melihat cita
– citamu yang ada di atas saja.”
“ Tapi kak, bukan itu masalahnya. Lihat
saja tingkah ayah yang tiba – tiba saja berubah.”
“Tiap tindakan manusia itu pasti
berlandaskan pada suatu alasan tertentu.” jawab kakak.
Lalu ayah keluar lagi dari kamarnya dan
menyuruh semua anggota keluarga untuk berkumpul di ruang tamu. Ayah pun mulai
berbicara,
“ Ayah ingin mengatakan sesuatu padamu,
Tita. Bukannya ayah tadi bersikap begitu untuk melarangmu kuliah. Tapi sebelum
itu ada satu permintaan untukmu. Sebagai anak perempuan satu – satunya di
keluarga ini. Pertama – tama, ingatkah kamu anak Pak Rusdi sahabat ayah
semenjak kecil dan sekarang menjadi kolega ayah.”
“ Oh Pak Rusdi itu, emang kenapa yah?”
“ Dia memiliki seorang anak laki – laki
yang seumuran kamu.”
“Aku tahu, dia kan teman kecilku juga. Tapi ayah, jangan bilang ayah ingin menjodohkanku. Aku nggak mau titik.”
“Tapi, Pak Rusdi sahabat ayah dari kecil.
Pak Rusdi ingin anaknya bisa mendapatkan wanita yang pantas dan ia
mempercayaimu. Kamu tegas, pandai dan pekerja keras. Pak Rusdi ingin anaknya
bisa menikah denganmu, Tita.”
“ AKU NGGAK
MAU, yah. Titik.”
“ Tidak kamu harus memenuhi perintah ayah,
kamu adalah anak perempuan satu – satunya. Cuma bertunangan saja setelah kamu
mulai masuk kuliah, lalu kalian menikah setelah 1 atau 2 tahun kuliah. ”
“ Tapi ayah tidak bisa berbuat begini.”
“Aku adalah ayahmu jadi kamu harus
menuruti ayah, kalau tak kamu tak perlu kuliah, bantu ibu saja dirumah.”
“ Tenanglah, yah. Ayah juga tidak bisa
memaksakan hal itu kepada Tita. Tita berhak menentukan apa yang dia mau.” bela
ibu.
“ Tapi lihatlah anak kita bu, dia tomboy
di sekolah walau dia juara di kelas tapi dia tidak pernah berpacaran, tidak seperti
anak-anak yang seumurannya.”
“ Aku tidak mau berpacaran karena ku ingin
fokus pada pelajaranku,yah dan untuk mendapatkan nilai – nilai yang bisa
membuatmu bangga. Pokoknya aku tidak
mau. Aku ingin jadi dosen dulu.”
Aku pun masuk ke dalam kamarku, ku sempat
mendengar bahwa ayah benar – benar tidak akan membiayai kuliahku jika ku tetap
tak mau dijodohkan dengan anaknya Pak Rusdi.
Aku
benci hidup seperti ini. Aku tidak suka dikekang seperti ini.
Aku
harus bisa buktikan bahwa aku bisa membuktikan bahwa cita – cita seseorang tak
bisa dihalangi oleh apapun juga. Batinku.
******
Saat tengah malam, ku menyalakan laptopku
dan aku mencari informasi di internet mengenai beasiswa yang dapat
menguliahkanku dan memberikan harapan untukku menjadi seorang dosen tanpa
bantuan ayah.
Akhirnya hamper 1 jam mencari, ku temukan
beasiswa itu. Ku catat hal – hal yang perlu kusiapkan untuk mengikuti beasiswa
itu.
Bismillahirrohmanirrohim.
Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, aku percaya Engkau sangat menyayangiku dan ku
tahu bahwa Engkau tahu aku tidak bermaksud untuk durhaka pada ayahku. Semoga
kau memperlancar jalanku ini.Amin.
******
Hampir 2 bulan sejak saat itu, hubunganku
dengan ayah menjadi agak renggang. Ayah tak mau mengajakku bicara dan hanya
lewat perantara ibu saja. Tapi yang bisa kulakukan adalah menguatkan diri afar
kejadian ini tidak mengganggu pelajaranku dan Ujian Nasionalku yang tinggal 1
minggu lagi.
Lalu saat sore hari, saat aku menyapu
teras, seorang tukang pos berhenti di depan rumah. Ia mencari seseorang yang
bernama Titania Dwi Rahmawati. Dan itu adalah aku, lalu ku terima surat itu. Di
amplopnya tertera namaku dan logo dari beasiswa yang pernah ku daftar sekitar 2
bulan lalu.
Ku buka amplop itu, dan di sana tertera
namaku pada nomor 56 dari 200 orang yang di terima untuk memilih perguruan
tinggi yang diinginkan dan pilihanku saat itu adalah Universitas Indonesia dan
aku tak menyangka bahwa itu adalah kenyataan. Aku langsung bersujud memanjatkan
beribu syukur kepada Allah SWT karena Ia tak meninggalkanku sendirian dan memberikanku
kesempatan untuk membuktikan sesuatu pada ayah. Lalu aku langsung berlari ke
dapur dan memeluk ibu erat – erat,
“ Loh,,loh,,ada apa Tita?” tanya ibu
bingung.
Dengan meneteskan air mata ku berkata pada
ibu,
“Allah memberiku kesempatan untuk memperbaiki
hubunganku dengan ayah, bu. Aku di terima di Universitas Indonesia di Jakarta
lewat sebuah program beasiswa terkemuka bu. Alhamdulillah bu, aku diterima oleh
mereka.”
“ Alhamdulillah, matur suwun Ya Allah,
sampeyan paringi anak kulo rezeki ingkang sae.”
“ Tapi,bagaimana aku memberi tahu ayah
bu?”
“ Serahkan itu pada ibu.”
Lalu aku menelepon yasmin dan bercerita
tentang ini. Dia bahagia bukan main tapi dia menyayangkan aku karena memilih
perguruan tinggi yang terlalu jauh. Tapi ia merasa bahwa sudah saatnya ia
berpisah denganku. Tinggal 7 hari ia bisa bersamaku dan ia ingin ku
memanfaatkannya sebaik mungkin.
“ Itu pasti, ku akan bikin bermacam -
macam kenangan denganmu dan juga dengan teman – teman yang lain.” jawabku.
Lalu setiap malam, ku selalu belajar –
belajar dan belajar agar nilai UNAS-ku baik dan 100 % dapat diterima sebagai
salah satu mahasiswi di Universitas Indonesia.
Tapi hingga Ujian Nasional berjalan, ayah
belum juga mengajakku berbicara ataupun menyinggung soal diterimanya aku di Universitas
Indonesia tanpa biaya apapun.
Apakah
usahaku sia – sia ? batinku.
Selama ujian ku tak mengalami hambatan
apapun, sekarang hanya menunggu hasilnya saja. Aku juga harus bersiap – siap
untuk berangkat ke Jakarta. Ibu sepertinya tidak rela melepaskanku, kakakku
yang jail itupun ternyata memberiku support untuk tetap berjuang dan bersabar
menghadapi ayah walau hanya melalui telepon terdengar nada tulus dari suara
kakak. Ternyata kakak sayang padaku.Sedangkan
ayah belum juga mengajakku berbicara, walaupun kata ibu, ayah tahu berita
diterimanya aku di Universitas terkemuka. Tapi itu belum meluluhkan hatinya.
Setelah hasil ujianku keluar, ku langsung
berangkat ke Jakarta. Kepergianku diiringi isak tangis ibu, adik dan teman –
temanku yang mengantarkanku ke bandara.
“Hati – hati ya nak. Ibu restui
kepergianmu, untuk mencapai cita – citamu. Do’a ibu selalu mengiringi setiap
langkahmu. Di Jakarta juga keras, jagalah kondisimu dan juga pergaulanmu. Dan
sebenarnya ayahmu juga senang kamu dapat berkuliah di sana dan ia meminta maaf
atas kesalahan yang selama ini ia lakukan padamu.”
Perkataan ibu akhirnya membuatku luluh dan
aku berjanji akan mencapai cita – citaku demi ibu dan ayah.
******
-6 tahun kemudian-
Rumahku sekarang terlihat berbeda. Warna
cat pagar depan rumah sudah tampak pudar dengan warna dinding rumah yang sudah
kusam. T`naman hias yang berada di pinggir – pinggir jalan utama tampak terawat
dengan baik. Pohon mangga di samping rumahpun terlihat sudah berbuah. Aku pun
mulai memasuki rumah, ada 2 sepeda motor di depan rumah.
Ada
tamu rupanya.
“ Assalamualaikum”
Seorang anak menyambutku dengan wajah
gembira,
“ Ibu, ibu, ayah, mbak Tita sudah pulang.
Ibu ke sini, cepetan bu.”
Aku menduga itu pasti adikku, Hanis.
Mungkin ia sudah kelas 1 SMP namun tingginya tidak sesuai dengan umurnya,
seperti anak kelas 2 SMP.
Ibupun keluar dengan mata yang dipenuhi
tetes air mata. Mungkin beliau kagum akan penampilanku yang kini memakai
pakaian kemeja putih buatan merk terkenal dengan rok hitam di bawah lutut juga
memakai high-heels. Di belakang ibu,
tampak ayah yang juga tertegun melihatku.
Aku pun menyalami ibu, adik, dan juga
ayahku yang akhirnya mengajakku berbicara untuk pertama kalinya setelah bertahun
– tahun. Di belakang ayah, tampak Pak Rusdi dan seorang lelaki muda seumuranku
yang tampak tak asing bagiku.
Kami pun berbincang – bincang dengan Pak
Rusdi dan lelaki itu. Aku terus mengamati gerak – geriknya, terus berusaha
mengingat apa yang pernah ku lupakan. Lalu dia mengajakku untuk duduk di teras
depan. Herannya lagi dia tampak menunjukkan keakraban denganku layaknya pernah
berteman lama. Dia pun mulai berbicara,
“Masa’ sudah lupa. Walau kita hanya 4
tahun berteman tapi masa’ sudah lupa.” kata dia.
“ Kamu siapa sih?” tanyaku.
“Aku Wahyu. Kita pernah sekelas waktu di
UI. Kita ambil mata kuliah yang sama, Teknik Fisika. Hingga kita lulus S1
bersama – sama. Tapi saat melanjutkan ke S2, aku harus meneruskannya di
Singapura dan meninggalkanmu. Dan sekarang lihat dirimu, telah menjadi seorang
dosen Teknik Fisika di UI sedangkan aku dosen di ITS dekat sini.” jawabnya.
“Oh,,sebentar,,kamu Wahyu temanku di UI
itu yang duduknya selalu memilih di sampingku.”
“Ya, itulah aku.”
“Mengapa kamu tidak bilang dari dulu,
bahwa kamu anaknya Pak Rusdi, sahabat baik ayahku. Kita sekarang dipertemukan
dalam keadaan yang begini pula. Sungguh memalukan.”
“ Tapi Tita, tahukah kamu alasanku mengapa
aku mengambil kuliah yang sama denganmu?”
“ Mengapa?”
“ Karena aku ingin menjaga dan mengawasimu
agar kamu baik – baik saja dan tak membuatku khawatir.”
“ Emang ada urusannya ta keadaanku dengan keadaanmu>”
“Bila kamu terluka misalnya hatimu
terluka, sedih karena sesuatu,itu saja akan membuatku terluka karena aku tak
bisa dipisahkan darimu, Tita. Kamu adalah segalanya bagiku.”
Aku langsung terdiam. Hatiku menjadi
berdegup kencang, wajahku memerah seperti buah tomat, Wahyu teman yang selalu
menemaniku saat ku kuliah di Jakarta adalah orang yang sama yang dulu ku tolak
saat akan dijodohkan.
Ya
Allah, Engkau Maha Penagsih lagi Maha Penyayang tidak hanya cita – citaku Kau
wujudkaan tapi Engkau memberiku sebuah keajaiban yang sekarang sedang berada di
depan mataku ini. Terima kasih Ya Allah atas segala yang telah kau takdirkan
padaku.
THE END
Langganan:
Postingan (Atom)
